ARTIKEL KESEHATAN

Senin, 19 Juni 2017

Uji Saring Neonatus, Momen Berharga di Hari Ke-3

artikel arlt

Kehadiran buah hati merupakan hadiah terindah bagi para orangtua. Penantian sembilan bulan terbayar sudah manakala kedua orangtua menyambut kelahirannya. Kebahagiaan akan terasa makin sempurna jika buah hati lahir dengan sehat, tanpa kelainan akibat penyakit turunan.

Ketika lahir ke dunia, secara fisik buah hati terlihat sempurna, tapi apakah kondisi dalam tubuh buah hati juga sama seperti kondisi yang nampak? Untuk mengetahui kondisi kesehatan buah hati secara menyeluruh perlu dilakukan pemeriksaan untuk mendeteksi apakah buah hati memiliki penyakit turunan yang dapat menghambat pertumbuhannya.

Menyadari akan pentingnya mengetahui kondisi kesehatan buah hati sejak dini agar masa pertumbuhannya dapat berjalan dengan baik, maka Laboratorium Klinik Prodia menyediakan sebuah panel pemeriksaan yang diberi nama Panel Uji Saring Neonatus.

Panel Uji Saring Neonatus

Uji Saring Neonatus adalah pemeriksaan yang dilakukan untuk uji saring pada setiap bayi baru lahir, 48-120 jam setelah kelahiran atau 2-5 hari, untuk mendeteksi kemungkinan adanya penyakit yang dapat mengganggu perkembangan dan pertumbuhan bayi, bahkan dapat berakibat komplikasi yang serius.

Uji Saring Neonatus penting dilakukan agar ketika dalam hasil pemeriksaan ditemukan adanya penyakit keturunan maka buah hati dapat ditangani sejak dini sehingga buah hati dapat tumbuh dan berkembang dengan normal. Pemeriksaan Uji Saring Neonatus dilakukan dengan mengambil sampel darah dari tumit bayi (heel prick) yang diteteskan pada kertas saring.

Jenis Pemeriksaan Uji Saring Neonatus

  1. TSH Neonatus

Pemeriksaan ini ditujukan untuk mendeteksi kelainan hipotiroid kongenital. Hipotiroid kongenital merupakan penyakit bawaan yang disebabkan kekurangan hormon tiroid. Kekurangan hormon tiroid dapat menyebabkan keterbelakangan mental, gangguan koordinasi gerak, dan lain-lain.

Kebanyakan bayi dengan hipotiroid kongenital terlihat normal secara klinis sampai usia 3 bulan, namun saat itu perkembangan otak mungkin sudah terganggu. Gejala klinis tidak spesifik, bahkan mungkin muncul pada bayi tanpa hipotiroid kongenital. Berikut gejala yang dapat diamati: bayi menjadi kekuningan, susah BAB, lemah, mengalami gangguan makan, lidah membesar dan wajah membengkak.

  1. G6PD Neonatus

Pemeriksaan ini ditujukan untuk mendeteksi kelainan defisiensi enzim glucose-6-phospate dehydrogenase (G6PD). G6PD merupakan kelainan genetik yang disebabkan kurangnya enzim G6PD. Defisiensi G6PD mengakibatkan sel darah merah lebih cepat rusak dan mengalami hemolisis. Defisiensi G6PD mengakibatkan sel darah merah tidak dapat lagi mengangkut oksigen secara efektif ke seluruh tubuh. Selain anemia hemolitik, kulit kuning merupakan gejala utama bayi dengan defisiensi G6PD.

Gejala yang dapat diamati antara lain, kulit kuning, sakit punggung, sesak napas, denyut jantung tidak beraturan, suhu tubuh meningkat secara tiba-tiba. Bayi yang memiliki kelainan hipotiroid kongenital dan defisiensi G6PD akan nampak normal saat lahir, tetapi cepat atau lambat kondisi tersebut akan memengaruhi otak buah hati Anda atau perkembangan fisik dan masalah medis lainnya. Bahkan, dapat mengakibatkan komplikasi berupa kelainan yang berlangsung lama.

Lakukan uji saring neonatus kepada bayi Anda di usianya yang ke-2 sampai 5 hari agar buah hati tumbuh dan berkembang dengan baik.

604 Dilihat
publik
dokter
perusahaan
Top Brands 2016 Frost & Sullivan Best Brand Gold

PT Prodia Utama

innodia Prodia th CRO Prodia accupational health institue ProSTEM ProLine