ARTIKEL KESEHATAN

Rabu, 02 Mei 2018

Laboratorium Berorientasi Patient Safety

artikel arlt

Patient safety didefinisikan sebagai upaya pencegahan terjadinya bahaya pada pasien atau pencegahan terjadinya luka atau kecelakaan yang disebabkan oleh tindakan medis. Atau dalam bahasa yang lebih sederhana, patient safety adalah pencegahan error/kesalahan dan kejadian merugikan bagi pasien terkait layanan kesehatan.

Kesalahan atau error merupakan salah satu hal yang dapat mengancam keselamatan pasien atau patient safety. Ada beberapa jenis sumber kesalahan yang dapat terjadi dalam layanan kesehatan secara umum yakni:

  • Kesalahan komunikasi (kegagalan komunikasi pasien atau yang mewakili pasien dengan praktisi, praktisi dengan staf non medis, atau antar sesama praktisi)
  • Manajemen pasien (delegasi atau penugasan yang tidak sesuai, kegagalan menelusuri, rujukan yang salah, dan lain-lain)
  • Kinerja klinis (sebelum, sesudah dan selama intervensi)

Sasaran utama patient safety di laboratorium klinik adalah meningkatkan keselamatan pasien dan mengurangi kesalahan pada seluruh tahapan proses pemeriksaan. Fokus keselamatan pasien adalah tahap pre analitik (sebelum pemeriksaan) dan paska analitik (setelah pemeriksaan).

Mengapa tahap pre analitik dan paska analitik menjadi fokus penting? Sebagian besar waktu proses di laboratorium berlangsung di tahap pre analitik dan sebagian besar kesalahan terjadi pada tahap pre dan post analitik. Perbaikan pada tahap ini berdampak besar terhadap perbaikan mutu secara keseluruhan.

Tahap analitik (proses pemeriksaan) telah mendapatkan pengawasan dan pengendalian yang ketat melaluli program pengawasan, pemantapan dan pengendalian mutu (quality control dan quality management).

Implementasi Patient Safety di Laboratorim Klinik Prodia

Dra. Lies Gantini, MSi, Customer Service Manager Prodia mengemukakan beberapa upaya pada tahap pre analitik dan paska analitik yang dilakukan Prodia secara konsisten untuk mencapai keselamatan pasien, yakni:

  1. Memenuhi persyaratan minimal yang diwajibkan, dengan melakukan: pengendalian mutu, pemantapan mutu, standarisasi personil/petugas, dan pemantapan mutu eksternal (proficiency testing).
  2. Penggunaan barcode dan label pada sampel maupun formulir pasien, saat pengambilan sampel, distibusi sampel dan pemeriksaan di alat, untuk memastikan sampel tidak tertukar.
  3. Mengelola interaksi dengan pelanggan pada proses pengambilan darah (flebotomi) di mana pasien dapat secara langsung merasakan dan memberikan penilaian, antara lain: petugas flebotomis adalah petugas yang telah mendapatkan pelatihan, sebelum melakukan pengambilan darah petugas selalu menunjukkan dan mengkomunikasikan kepada pelanggan bahwa identitas/label sudah sesuai dengan pelanggan, mengkomunikasikan bahwa jarum dan tabung yang digunakan adalah baru, penggunaan sarung tangan, jarum yang sudah digunakan dibuang dalam wadah limbah jarum, pengambilan darah harus satu kali kena,dan sebagainya.
  4. Pengendalian dan pengawasan proses flebotomi (pengambilan darah) melalui penilaian kemampuan petugas flebotomi dengan menggunakan kuesioner yang diisi oleh pelanggan dan pemantauan internal dengan check-list oleh supervisor.
  5. Pelatihan keterampilan dalam berkomunikasi dan melayani bagi petugas yang berinteraksi dengan pelanggan untuk memastikan komunikasi berjalan dengan efektif.
  6. Pelaporan akhir hasil, di mana masing-masing hasil pemeriksaan dicek kembali, diperiksa kesesuaiannya dengan kondisi/diagnosa pasien dan korelasi antar pemeriksaan, oleh petugas berpengalaman.

Keselamatan pasien di laboratorium klinik membutuhkan pengawasan terus menerus oleh individual, laboratorium, organisasi profesional, dan lembaga pemerintahan. Pasien diharapkan bisa lebih kritis, menilai dan memilih layanan kesehatan tidak semata-mata berdasarkan biaya, namun mulai menilai mutu layanan dan keakuratan hasil. Bagaimana pun pada akhirnya pasienlah yang akan mengalami konsekuensi baik buruknya layanan kesehatan tersebut.

6586 Dilihat