ARTIKEL KESEHATAN

Kamis, 12 Juli 2018

Penyebab Infertilitas yang Perlu Diwaspadai

artikel arlt

Infertilitas dapat menjadi masalah besar bagi pasangan yang mengharapkan kehadiran si kecil di tengah-tengah keluarga. Salah satu penyebab infertilitas yang perlu diwaspadai adalah PCOS atau Polycystic Ovary Syndrome.

Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan sindrom ovarium polikistik (SOPK) adalah sindrom atau kumpulan gejala klinis yang disebabkan oleh kelainan atau ketidakseimbangan hormon.

PCOS menyebabkan sekitar 50-70% kasus infertilitas akibat kegagalan ovulasi atau pembuahan (disebut infertilitas anovulatori). Hingga saat ini penyebab PCOS masih belum diketahui secara jelas. Beberapa sumber menyebutkan bahwa PCOS terjadi karena interaksi antara faktor genetik dan lingkungan. Wanita yang ibunya mengalami PCOS, memiliki risiko terkena PCOS yang lebih besar.

Seiring perkembangan penelitian di bidang kedokteran khususnya bidang endokrinologi, diketahui ada banyak faktor yang menyebabkan timbulnya PCOS, yaitu interaksi antara ovarium (indung telur), sistem hormon di poros hipotalamus-pituitari, hingga gangguan aktivitas insulin.

Secara garis besar, sistem reproduksi wanita mencakup sistem hormon di poros hipotalamus-pituitari dan organ reproduksi yang terdiri atas ovarium (tempat sel telur yang belum matang yang berbentuk folikel/kantung), tuba fallopi (saluran yang mengubungkan ovarium dengan uterus), uterus (rahim), dan vagina.

Hipotalamus dan pituitari adalah organ yang terdapat pada otak manusia. Pituitari mengeluarkan Follicle Stimulating Hormone (FSH) dan Luteinzing Hormone (LH) atas 'komando' hipotalamus. Kedua hormon ini akan merangsang sel telur immature di dalam ovarium agar menjadi matang.

Sel telur yang matang memicu ovarium untuk memproduksi hormon utama wanita, yakni Estrogen. Kadar hormon estrogen ini kemudian akan meningkat hingga mencapai suatu level yang mengakibatkan pituitari mengeluarkan LH dalam jumlah yang banyak. Keadaan ini dinamakan "LH surge" , yang akan merangsang sel telur yang sudah matang agar keluar dari folikel untuk masuk ke dalam uterus melalui tuba fallopi. Sel telur yang matang ini kemudian menunggu sperma untuk dibuahi. Namun jika tidak terjadi pembuahan, maka sel telur ini akan keluar melalui proses menstruasi.

Penderita PCOS juga memiliki kadar insulin yang berlebihan. Tingginya kadar insulin dan kadar LH akan memicu terbentuknya hormon testosteron oleh ovarium, sehingga penderita PCOS memiliki kecenderungan berjerawat atau mengalami pertumbuhan bulu halus yang tidak normal atau terjadinya androgenik alopecia (botak).

1202 Dilihat